Loading

Percaya Diri Gapai Prestasi!

Apa yang terjadi jika seorang atlet merasa kehilangan kepercayaan dirinya? Kalah sebelum bertanding mungkin akan menjadi hasil yang di dapat. Namun, bagaimana jika ada atlet mempunyai rasa percaya diri yang berlebih? Kekalahan akan membuatnya runtuh seketika.

Atlet yang merasa tidak percaya diri, atau sering disebut diffident, merupakan akibat dari ketidakyakinannya pada kemampuan yang dia miliki. Atlet tersebut mempersepsi dirinya terlalu rendah sehingga kemampuan optimalnya tidak tampak. Dengan kata lain, atlet tersebut meremehkan dirinya sendiri. Untuk kasus seperti ini, sebuah kesalahan kecil akan menimbulkan malapetaka, karena akan mengukuhkan persepsi tentang ketidakmampuannya.
Kasus yang tidak kalah merugikannya adalah ketika seorang atlet mempunyai kepercayaan diri yang melampaui batas atau overconfidence. Dengan kata lain, atlet tersebut mempunyai keyakinan yang terlalu berlebih mengenai kemampuan aslinya (Wann, 1997). Overconfidence inipun tidak kalah berbahaya dari kekurangan rasa percaya diri. Akibat kepercayaannya yang tidak sesuai dengan kondisi nyata, atlet tersebut akan cenderung untuk mengurangi atau bahkan malas berlatih. Efeknya adalah penurunan performa pada saat kompetisi. Dan karena atlet dengan rasa percaya diri yang berlebihan ini biasanya tidak pernah membayangkan kekalahan, maka pada saat harus menerima kekalahan yang muncul adalah rasa frustasi yang berlebihan.

Oleh karena itulah, seorang atlet harus tetap menjaga rasa percaya dirinya (self confidence) pada titik yang optimal. Mereka harus memandang secara rasional kemampuannya. Seorang atlet yang mempunyai rasa percaya diri optimal biasanya mampu menangani situasi yang sulit dengan baik. Mereka akan mengembangkan sikap yang rasional, mau bekerja keras, melakukan persiapan yang memadai dan juga mempunyai banyak alternatif untuk memecahkan kesulitan yang muncul (Dosil, 2006).

Lentur dan Mudah Berubah
Dari gambaran di atas, jelas terlihat bahwa kepercayaan diri merupakan elemen penting yang memengaruhi penampilan seorang atlet. Percaya diri sendiri sering diartikan sebagai gambaran atas kemampuan pribadi yang berkaitan dengan tujuan tertentu. Atau dalam definisi yang lain, kepercayaan diri keyakinan atau tingkat kepastian yang dimiliki oleh seseorang tentang kemampuannya untuk bisa sukses dalam olahraga (Wann, 1997). Artinya ada unsur keyakinan akan kemampuan diri yang bersinggungan dengan kondisi riil pertandingan atau tujuan yang akan dicapai.

Ada banyak aspek yang dapat meningkatkan rasa percaya diri seorang atlet. Yang paling sering ditemui adalah keberhasilan atau prestasi yang di raih sebelumnya. Dalam kasus sepakbola, kemenangan-kemenangan di pertandingan sebelumnya sering dijadikan pelecut yang memompa kepercayaan diri pemain. Dengan kata lain, kemenangan pertandingan sebelumnya dapat meningkatkan rasa percaya diri pemain untuk pertandingan selanjutnya.
Selain itu, aspek lain yang berpengaruh adalah penguasaan teknik dan skill yang diperlukan. Beberapa waktu yang lalu, Chris John menyatakan kesiapan serta keyakinannya untuk mengalahkan Petinju dari Jepang atas dasar latihannya yang keras untuk mempunyai pukulan yang mematikan. Dalam hal ini, Chris John merasa telah menguasai sebuah keterampilan atau skill yang dibutuhkan untuk mengalahkan lawan-lawannya.

Hal lain yang mempengaruhi kepercayaan diri seorang atlet adalah konsep diri. Konsep diri merupakan sebuah gambaran mengenai dirinya sendiri. Konsep diri seringkali disebut sebagai self perception. Gambaran dan keyakinan mengenai siapa diri kita sangat menentukan rasa percaya diri seseorang.

Penjelasan di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa sebenarnya kepercayaan diri itu adalah sesuatu yang lentur dan sangat rentan dengan perubahan. Kekalahan demi kekalahan, komentar yang buruk dari lingkungan maupun media, atau bahkan kesalahan dalam memersepsi kemampuan diri bisa jadi menjadi faktor ambruknya rasa percaya diri seorang pemain atau atlet.

Menumbuhkan dan Memelihara
Jelas merupakan pekerjaan rumah bersama antara pemain/atlet, pelatih dan para psikolog olahraga yang mendampingi untuk mencari metode dan cara agar tingkat kepercayaan diri seorang atlet bisa dipertahankan dalam level yang optimal. Usaha pemain/atlet akan sia-sia seandainya pelatih yang menanganinya memberi komentar yang justru meruntuhkan rasa percaya diri atlet.

Penelitian yang dilakukan oleh Chie-der menunjukkan bahwa ada beberapa sumber dari rasa percaya diri, yakni penyempurnaan skill, demonstrasi, dan penampilan fisik. Ketiga sumber ini merupakan hasil dari latihan yang, tentu saja, merupakan peran dari pelatih. Dari penelitian tersebut terlihat bahwa ketika seorang atlet basket mampu menyempurnakan skill, melakkukan demonstrasi serta menunjukkan penampilan fisik yang optimal, maka tingkat rasa percaya dirinya pun akan meningkat.

Untuk pemain/atlet, ada beberapa saran yang bisa dilakukan untuk menjada rasa percaya diri dalam posisi optimal, di antaranya adalah tetap realistis terhadap kemampuan yang dimiliki dengan melihat tugas yang harus dihadapi. Tidak semua kompetisi mempunyai tingkat kesulitan yang sama. Sehingga seorang pemain harus mampu melihat kemampuan optimalnya berdasar level kompetisi yang mereka ikuti.

Pergunakan pengalaman yang lampau untuk media belajar, baik itu berupa keberhasilan maupun kegagalan. Menyusun tujuan dan pencapaian yang realistis akan membantu memudahkan mencapai taraf percaya diri yang optimal. Mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan mengenali teknik-teknik yang belum begitu dikuasai untuk kemudian dilatih dengan lebih intensif.

Untuk para pelatih, memelihara rasa percaya diri para pemain tidak hanya dilakukan melalui ucapan-ucapan. Memang ucapan pelatih merupakan salah satu suntikan motivasi yang bagus bagi atlet yang sedang mengalami penurunan, namun kadang-kadang ucapan bisa menjadi bumerang yang justru akan menjatuhkan mental.

Untuk itu memelihara rasa percaya diri pemain agar tetap dalam kondisi optimal bisa juga dilakukan dalam sesi latihan. Latihan yang menggunakan goal setting akan memacu para pemain untuk menyelesaikan dengan baik. Tapi harus diingat, membuat goal yang realistis akan membuat rasa percaya diri pemain naik, karena ada persepsi bahwa mereka bisa menyelesaikan tugas dengan sempurna.

Menjadikan diri sebagai model atau panutan juga akan membantu. Di lapangan, bagaimanapun juga, seorang pelatih adalah model bagi atletnya. Apa yang dilakukan oleh model, sedikit banyak akan ditiru oleh pemain. Untuk itulah, seorang pelatih harus tetap menjaga wibawa dan menunjukkan bahwa dirinya pantas untuk ditiru, baik dalam bentuk ucapan maupun bahasa tubuh.

Mengajak pemain untuk mempraktekkan self talking terbukti membantu. Self talking adalah aktivitas untuk mengenali dirinya lebih jauh lagi. Dengan self talking, seseorang diajak untuk lebih realistis dalam melihat kelebihan dan kekurangan. Dengan demikian, pemain akan tetap sadar dengan kemampuan terbaiknya, sebaliknya seandainya masih ada kekurangan, pemain bisa meningkatkannya.

Memberi pujian juga merupakan salah satu metode yang bisa dilakukan. Pujian mengandung penguat positif yang mempunyai kecenderungan menguatkan perilaku. Dengan memberi pujian pada pemain yang mampu menyelesaikan tantangan, maka akan memberikan persepsi yang positif bagi atlet (Wann, 1997).

Peran Psikolog
Untuk olahraga-olahraga tim, peran pelatih barangkali mempunyai keterbatasan yang disebabkan oleh jumlah pemain yang cukup banyak. Dari kondisi tersebut, pelatih seringkali mempunyai kesulitan dalam mengenali satu persatu kondisi mental para pemainnya. Untuk itulah para pelatih sebaiknya didampingi oleh seorang psikolog olahraga yang bertugas untuk membantu memberi masukan dan memahami para pemain satu demi satu.
Psikolog dapat berperan lebih aktif dalam peningkatan rasa percaya diri atlet ini dengan memberi masukan kepada pelatih mengenai kondisi kejiwaan masing-masing pemain. Selain itu, seorang psikolog juga harus mampu segera memberi analisis dan saran perlakukan seandainya ada pemainnya yang merasa tidak percaya diri.

Selain itu, yang bisa dilakukan adalah dengan menggunakan teknik imagery training. Imagery training adalah visualisasi mental yang berkaitan dengan tugas atau pertandingan yang akan berlangsung. Dalam imagery training, seorang pemain diajak untuk membayangkan secara langsung suasana dan situasi pertandingan yang akan dihadapi. Mulai dari lawan, penonton, hingga kesulitan-kesulitan yang kira-kira akan muncul dalam pertandingan.

Tujuan dari imagery training adalah agar atlet/pemain mempunyai gambaran yang lebih riil mengenai kemampuannya, masalah-masalah yang mungkin akan timbul sehingga dia bisa segera mencari solusi, atau mungkin suasana penonton yang bisa jadi akan melakukan teror. Dengan gambaran-gambaran lebih nyata ini, para atlet akan mampu bersikap dan mengambil tindakan sesuai dengan kebutuhan dalam konteks memenangkan pertandingan.

Mencintai Wanita Lebih Tua. Why Not?

KapanLagi.com - Richoku
Jatuh cinta bisa terjadi pada semua orang, kapan saja dan dimana saja. Yang sering terjadi adalah bahwa pria akan jatuh hati pada wanita yang lebih muda usianya, atau pada seorang wanita yang seusia dengannya. Namun, apakah salah jika seorang pria jatuh hati pada wanita yang usianya lebih tua darinya?
Tak ada yang salah alias sah-sah saja bila perasaan ini muncul terhadap wanita yang terpaut bahkan jauh lebih tua dari si pria. Kita menyebutnya dengan istilah Oedipus Complex. Nah, bila hal itu terjadi, bagaimana cara seorang pria untuk bisa merebut hati wanita yang lebih tua?
Belum lama kita mendengar aktris Hollywood, Demi Moore, mengungkapkan kepada publik mengenai pernikahannya dengan aktor muda, Ashton Kutcher. Pria tampan ini berhasil memikat hati janda aktor Bruce Willis yang usianya terpaut lebih dari 15 tahun lebih muda darinya.
Padahal, Demi telah dikaruniai tiga anak dari pernikahannya dengan aktor laga Die Hard ini. Diusia 40-an, Demi Moore masih sanggup mempesona Kutcher. Tak kalah heboh, berita pengacara muda Farhat Abbas, suami dari penyanyi sendu Nia Daniati ini menikah dengan Ani Muryadi, wanita yang usanya terpaut 16 tahun.
Secara psikologis, kita menyebut kasus-kasus ini dengan istilah Oedipus Complex. Istlah ini dicetuskan oleh Sigmund Freud, bapak psikologis analisis dari Austria pada akhir tahun 1800-an. Contoh ini membawa gambaraan bahwa wanita usia lebih tua masih mampu menjadi magnet bagi pria.
Menurut A. Kasandra, psikolog, kecenderungan pria yang jatuh cinta kepada wanita yang lebih tua darinya, terobsesi karakter ibunya. Kemungkinan sejak kecil si pria tersebut memiliki kedekatan secara emosional terhadap figur seorang ibu. Sehingga, secara tak langsung, alam bawah sadarnya merekam memori kasih sayang yang selama ini diberikan sang bunda.
Nah, bila selama ini hubungan Anda, sebagai seorang pria, dengan wanita sebaya atau yang lebih muda mengalami kejenuhan, mungkin Anda ingin mencoba untuk berpetualang cinta dengan wanita lebih tua. Namun, sebelum Anda bisa mendekati atau bahkan dapat merebut hatinya, Anda perlu mengetahui seperti apa karakter wanita-wanita yang lebih tua usianya, agar upaya Anda sukses.
1. Lebih Matang
Bila teman wanita Anda sebelumnya lebih muda atau sebaya, selama itu pula Anda merasa selalu menjadi orang yang didengar segala perkataannya, dan seakan menjadi 'bodyguard' untuknya. Kebalikan berhadapan dengan wanita yang lebih tua, tak membutuhkan itu semua. Wanita lebih tua berkecenderungan memiliki latar belakang pengalaman kehidupan yang lebih banyak, sehingga lebih matang menghadapi kehidupan.
Meski kematangan emosi dan cara berpikir seseorang tak dapat diukur dari usia, namun kecenderungan wanita dewasa lebih dapat mengontrol emosinya daripada yang muda. Hampir sama dengan pria, kecenderungan berpikir atau mengambil keputusan lebih banyak menggunakan rasio. Kedewasaan ini pula alasan yang diberikan oleh pihak wanita untuk menerima pria yang lebih muda usianya. Alasannya, karena mereka mempunyai kekhawatiran bahwa pria seusianya tak mampu memenuhi kebutuhan yang diinginkan.
2. Pengalaman Seksual
Mungkin ini salah satu alasan yang Anda cari. Wanita lebih tua biasanya lebih berpengalaman di atas ranjang. Meski hal ini sulit dibuktikan, tapi Anda akan merasakannya saat hanya berdua di atas ranjang. Sekalipun wanita muda mengalami menoupause sekitar usia 40-an, tapi bagi sebagian wanita penganut western minded merasa gairah seksualnya malah meningkat.
Tren saat ini, bila kecenderungannya wanita lebih tua mencari 'brondong' (sebutan bagi pria yang lebih muda), itu hanya untuk short relationship. Tapi ini bisa menjadi pengalaman baru bagi Anda, apalagi bagi pria muda yang berkecenderungan suka bereksperimen.
Namun ada wanita yang berada diambang 40-an memiliki keterbatasan dalam seksual. Dan ini akan sangat berbeda dengan Anda yang memiliki hasrat kuat dalam berhubungan intim. Untuk mengimbangkan keduanya, pusatkan kebutuhan seksual pada romantisme dan kasih sayang. Yakinkan bahwa bukan seks yang Anda butuhkan, tapi perhatian dan rasa sayang.
3. Materi
Tak bisa dipungkiri, bila wanita berumur namun masih single, biasanya adalah wanita yang mandiri. Wanita yang telah merintis karir sejak muda biasanya telah mapan secara finansial. Karena itu, si wanita akan lebih banyak bersikap dominan memutuskan berbagai hal. Misalnya, kemana akan makan malam, nonton di mana dan lain-lain.
Untuk berhadapan dengan wanita dengan tipe dan sikap seperti itu, sebaiknya jagalah sikap dengan tidak menyela saat dia berbicara, jangan pula membandingkan karir antara Anda dan dia, serta jangan pula Anda merebut perhatiannya hanya untuk menguasai hartanya, karena dia akan bersikap protektif dan menutup diri.
4. Kontrol Hasrat
Bila pasangan Anda lebih tua, Anda akan terus menerus menjalani masa proses belajar. Menghadapi masalah serumit apapun, menurut pasangan Anda akan terselesaikan, karena dia sudah memikirkan matang. Sedangkan bagi Anda, masalah rumit seolah-olah akan membuat dunia kiamat. Di sinilah wanita lebih tua sering memberi bimbingan yang Anda perlukan.
Wanita lebih tua cenderung lebih ingin mengontrol, namun jangan lupa bahwa pria merupakan kepala rumah tangga. Meskipun emansipasi wanita sering di dengungkan, tapi dalam suatu keluarga kendali pemerintahan tetap dipegang oleh pria, hal itni tentu saja bila keduanya memiliki saling pengertian yang tinggi. Si wanita tidak egois dan Anda tidak terlalu kekanak-kanakan serta memiliki sikap tanggung jawab, maka seberat apapun hubungan tersebut pasti bisa dilalui.
Patut Anda ingat, jika sebuah hubungan didominasi oleh salah satu pasangan, artinya hubungan itu sudah tidak sehat lagi. Jadi, usahakan jangan menunjukkan sikap di depannya bahwa Anda yang lebih berhak atas dirinya. (bun)

Tips Agar Anak Mencintai Kamarnya

Ajaklah si kecil mencintai kamar tidurnya. Karena di kamarnya, si kecil dapat “men-charge” energi dan mendapatkan rasa aman.

Anak-anak akan mencintai sesuatu apabila membuat mereka nyaman, aman dan menyenangkan. Sama halnya dengan kamar tidur, agar si kecil mencintai kamarnya sendiri ada beberapa hal yang harus dilakukan orang tua. Mulai dari penyediaan berbagai kebutuhan anak di dalam kamar, sampai mengajak si prasekolah terlibat dalam penataannya. Ada beberapa cara yang dapat Anda lakukan agar anak mencintai kamarnya:

Apakah arti sebuah kamar untuk seorang balita? Tak hanya sebagai tempat bernaung saat beristirahat. Menurut Laurence Steinberg, Ph.D., psikolog dan ahli pola asuh (parenting) dari Amerika, rumah dan kamar pada intinya adalah tempat berlindung dari ketegangan dan tekanan kehidupan yang biasanya mereka peroleh di luar rumah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mewujudkannya:

Jadikan kamar sebagai tempat yang menyenangkan, aman dan menenangkan bagi anak. Meskipun dalam budaya Indonesia, anak-anak biasanya baru tidur di kamarnya sendiri setelah memasuki masa batita, namun sejak awal Anda harus memikirkan ruang khusus milik si kecil pribadi.

Lengkapi kamar anak dengan perabot sesuai kebutuhan. Kamar haruslah menjadi tempat anak memenuhi kebutuhannya. Seperti, kebutuhan menyalurkan hobi, seperti corat-coret, bermain, beristirahat, mengerjakan tugas prasekolah, serta menghibur diri dari kesedihan, tapi sebisa mungkin hindari televisi atau video games di kamar anak. Nah, yang kerap dilupakan adalah senantiasa menyimpan air putih dan makanan kecil, seperti crackers agar perutnya tak keroncongan.

Selalu pertimbangkan usia anak dalam menyediakan kebutuhan dan menata kamar anak. Prinsip penting yang harus dipegang untuk menyediakan kamar bagi balita adalah: simple, aman, fungsional dan nyaman. Tentu saja karena anak-anak masih terbatas kemampuan dan ukuran fisiknya, carilah yang ukurannya sesuai dengan tubuh si kecil.

Bersikaplah fleksibel! Beri kelonggaran bagi si balita untuk melakukan eksplorasi di kamarnya. Apabila Anda tak mengizinkannya mencoret dinding di ruangan lain di rumah Anda, sediakan sebuah dinding di kamarnya yang boleh menjadi media ajang corat-coret. Biarkan pula, kalau Anda tidak keberatan, ia berkreasi pada daun pintu atau jendela kamarnya. Tak hanya menggunakan krayon, biarkan ia menempel stiker di balik pintu kamar, atau cap telapak tangan pada kaca jendela.

Meskipun kamarnya harus dilengkapi dengan kebutuhannya, tetapi senantiasa biarkan ruang kosong yang cukup dalam kamarnya. Tujuannya, agar kebutuhan anak akan ruang gerak terpenuhi, juga agar jiwanya bisa “bernafas”.. Balita membutuhkan ruang gerak untuk melampiaskan kebutuhannya untuk aktif secara motorik.

Agar mencintai kamarnya, penting juga menjadikan kamar tidur si kecil tempat yang menarik. Semisal dengan memberi tema pada penataan kamar anak. Anda dapat “mencontek” dari majalah atau buku. Tema akan menentukan nuansa warna, corak dan dominasi. Biarkan pula si kecil menyampaikan aspirasinya. Ajak anak terlibat dalam menata ulang, mengelola pengaturan dan memilih berbagai ornamen hiasan kamar. Inilah salah satu cara penting untuk memunculkan sense of belonging.

“Simpan” kenangan menyenangkan dalam kamar tidurnya. Ciptakan ritual khusus di kamar tidur. Misalnya, ritual membacakan dongeng atau cerita sebelum tidur, ritual membersihkan tempat tidur, atau menghias dinding bersama.
Perhatikan juga keseluruhan atmosfir emosional yang ada di kamar si kecil. Jauhkan kamar anak dari ketegangan akibat perseteruan Anda dengan anggota keluarga lain, misalnya pembantu, pengasuh atau dengan si kecil. Kalau Anda hendak berdebat atau menyelesaikan masalah di kamar, usahakan agar berakhir damai. Menurut Steinberg, suasana emosi yang terbawa ke kamar tidur haruslah positif, agar penghuninya juga nyaman tidur di dalamnya.

Rekaman kebahagiaan. Pajang foto yang “merekam” momen menyenangkan si kecil bersama Anda, kakak, adik dan anggota keluarga lainnya. Boleh juga si kecil menggantungkan gambar favorit yang menggugah inspirasi dan suasana hatinya.
Ciptakan lingkungan yang sehat dan bersih agar si kecil betah.
Senantiasa bersihkan kamar anak, tak selalu Anda atau si Mbak yang harus melakukannya. Sesekali ajak si prasekolah membersihkan kamar dan mengganti perangkat, seperti sprei, sarung bantal, gordin dan lainnya.

Hindari sumber stress. Sebaiknya kamar anak tak dilengkapi dengan pesawat televisi atau monitor komputer. Menurut berbagai penelitian, ini adalah salah satu sumber kebisingan, serta memberi stimulasi yang kalau tidak

Hindari penumpukan benda terlalu lama dalam kamarnya. Misalnya, pakaian kotor, buku-buku yang telah dibaca, mainan atau bekas kemasan kudapan si kecil. Selain menjadi lebih segar dan bersih, nyamuk dan serangga pun tak jadi bersarang.

Secara berkala buka jendela dan biarakan udara segar serta sinar matahari masuk kamarnya. Biarkan pula aromaterapi mengharumkan dan mendukung suasana nyaman dan menyenangkan bagi si kecil. Tanyakan pada ahli aromaterapi, jenis minyak esensial dan bentuk yang cocok untuk kamar si balita

Kapan seseorang merasa mencintai?

Nah, akhirnya kita sampai pada pertanyaan, kapan seseorang merasa dirinya mencintai seseorang. Kita menganggap cinta hadir dalam hidup kita karena hadirnya orang lain (terutama lawan jenis), adanya keterbangkitan fisiologis yang kemudian disebut cinta, dan adanya situasi-situasi dipelajari yang disebut cinta. Pertama, hadirnya orang lain. Kehadiran lawan jenis sangat jelas merupakan penanda pertama kemunculan cinta. Lawan jenis yang bisa memunculkan cinta adalah yang memiliki daya tarik tertentu, seperti tampan, sehat dan sebagainya, seperti yang telah dibahas di atas.

Kedua, keterbangkitan fisiologis. Anda tahu Anda jatuh cinta pada saat Anda merasakan adanya suatu perbedaan dalam diri Anda. Anda merasakan sesuatu yang lain padanya. Ketika bertemu dengannya, Anda mengalami hal yang tidak dialami ketika bertemu orang lain. Anda mungkin mengalami cemas, gelisah, gembira berlebihan, dan lainnya.

Ketiga, pengaruh situasi yang dipelajari. Anda mungkin berharap seseorang akan datang untuk mengatakan cinta, karena begitulah lagu-lagu dan film menceritakan pada Anda. Nah, jika Anda belajar bahwa situasi-situasi tertentu merupakan ekspresi cinta, maka ketika Anda menghadapinya, Anda akan merasa jatuh cinta. Jika tidak ada orang lain yang menganggapnya sebagai cinta, maka Anda tidak akan menganggapnya cinta. Dulu, pada saat cinta tidak se-massif sekarang pengaruhnya, orang tidak terlalu peduli tentang cinta, dan tidak mengharapkannya.

PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Tulisan yang terbatas ini hanya memuat beberapa pembahasan mengenai aspek-aspek kejiwaan dalam pribadi seseorang yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari atau dalam latihan-latihan, karena latihan yang kita laksanakan berhubungan dengan manusia sebagai objek dengan membawa berbagai karakter, tipe kepribadian dan temperamen.

A. Perasaan

Kerap kali kita melihat orang tampak gembira atau sedih. Gembira atau sedih ini adalah pernyataan-pernyataan perasaan. Perasaan itu menyatakan sesuatu tentang keadaan jiwa pada suatu saat. Ada rasa “suka dan tidak suka”.

Rasa suka adalah rasa yang menyenangkan : enak, ketenangan, keindahan, lezat, kebahagiaan dan sebagainya. Rasa tidak suka adalah rasa yang tidak enak, tidak menyenangkan, dukacita, takut, khawatir, gelisah, kesedihan, kacau dan sebagainya.

Perasaan itu selalu bersifat perseorangan, selalu bersama-sama dengan gejala-gejala jiwa lainnya, seperti teringat sesuatu, frustasi, kecewa, bahagia dan lain lain. Perasaan biasanya menyatakan diri dengan tingkah laku dan dapat diselidiki dengan jalan ekstrospeksi dan introspeksi. Perasaan ada yang bersifat biologis dan rohaniyah. Perasaan biologis meliputi perasaan yang berhubungan dengan fungsi hidup jasmaniah (lapar, haus, letih, lesu dan lain-lain).

Perasaan rohaniyah meliputi ; perasaan intelek yang menyertai pekerjaan intelektual, perasaan estetis yang berhubungan dengan keindahan (termasuk hal-hal yang lucu), perasan etis yang berhubungan dengan perbuatan baik dan buruk, perasaan keagamaan yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa dimana kita ingat kepada Tuhan, perasan diri yang menyertai gambaran kita sendiri (positif dan negatif ; kompleks inferior/superior), perasaan sosial dalam hubungan kita dengan orang lain.

B. Prasangka

Prasangka adalah predisposisi untuk memberikan penilaian yang diskriminatif terhadap pribadi atau kelompok tertentu. Menurut analisis transaksional, hal ini terjadi karena cara hidup yang kita peroleh dari pengalaman sejak kecil atau masa lalu menjadikan kita tidak dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas.

Kita mempunyai harapan-harapan tertentu tentang orang lain –seringkali harapan yang bersifat negatif--, karena perbedaan jenis kelamin, suku bangsa, agama atau perbedaan kelompok. Harapan-harapan demikian seringkali tidak diajarkan terus terang pada kita, tetapi diangkat dari pengamatan kita terhadap prasangka mereka yang berpengaruh pada masa kecil kita.

Ketika saya melakukan/memimpin sebuah pelatihan (Up-grading), seorang peserta wanita meminta waktu untuk berbicara dengan saya pada hari ke 2. Ia kelihatan sangat kikuk dan mengatakan kepada saya, bahwa ia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Saya memberikan dorongan dan akhirnya ia mengatakan “saya merasa sangat malu ! ketika pertama kali anda masuk ruangan untuk memberikan materi, saya agak jengkel”. “Bayangkan, ketika saya memutuskan untuk ikut acara ini, saya akan dipimpin oleh seorang yang pemarah”, “akan tetapi saya merasa tertipu oleh prasangka saya, dan kini harus saya katakan kepada anda, bahwa anda adalah orang yang ramah dan suka humor dan materi yang anda berikan sangat berguna bagi saya”, “saya sangat malu karena waktu itu langsung mengira bahwa saya akan “ketakutan” dan tidak akan mendapatkan materi yang berguna, karena anda terlihat seperti seorang yang galak”.

Peserta wanita tersebut telah mempunyai prasangka yang bukan-bukan, tapi ia tidak bersikeras dengan prasangkanya, sehingga ia masih dapat berubah pandangan. Sayang sekali pada beberapa kasus, ada orang yang demikian kuat prasangkanya, sehingga tidak dapat mengubahnya, karena prasangka dapat mendistorsi persepsi kita tentang realita, maka prasangka merupakan hambatan yang besar dalam komunikasikita dengan orang lain. Menyadari prasangka kita sendiri biasanya sulit, karena kita selalu yakin akan kebenaran prasangka itu.

Adakalanya prasangka mampu membuat seseorang yang kurang percaya diri merasa lebih baik. Prasangka dapat membuat orang memandang rendah orang lain. Sesungguhnya hal demikian justru mempersulit upaya mengenali dan menghilangkan prasangka. Orang yang sangat dikuasai prasangka biasanya selalu merasa tidak aman dan bersifat kaku.

Mereka selalu mencoba mengatasi keraguan dan ketakutan mereka dengan merendahkan orang lain, melemparkan kesalahan pada orang lain, dan menganut faham yang dogmatis. Menyadari sifatnya tersebut, membuat kita tidak mudah marah terhadapnya. Orang yang demikian tidak akan menjadi baik bila dihadapi dengan sikap yang keras dan menuntut ; sebaiknya, mereka membutuhkan rasa aman dan tenang, sebelum mampu menghilangkan sikapnya yang kurang baik.

C. Delusi
Delusi merupakan keyakinan semu yang sesungguhnya tidak benar, dan tidak dapat dikoreksi dengan pikiran sehat. Terdapat perbedaan antara delusi dengan kekeliruan yang adakalanya kita lakukan dalam menanggapi fakta-fakta, karena delusi ditimbulkan oleh berbagai perasaan negatif. Timbul delusi bila perasaan yang kuat mewarnai persepsi kita tentang dunia, diri kita atau orang lain. Mungkin kita masih ingat bagaimana seseorang merasa bahwa orang-orang menilai dirinya secara negatif.

Delusi menyudutkan kita untuk melakukan tindakan yang mengacaukan situasi. Kita bertindak berdasarkan persepsi salah yang membuat kita membayangkan respons negatif dari orang lain, karena itu mungkin sekali kita justru mendapat reaksi seperti yang dibayangkan sehingga menguatkan rasa takut kita.

D. Atribusi
Kita semua mencoba memahami pengalaman-pengalaman kita, kemudian berupaya agar pengalaman-pengalaman tersebut bermakna, dan menafsirkannya. Atribusi, beberapa alasan yang kita gunakan untuk menerangkan pengalaman-pengalaman kita biasanya mengacu pada beberapa ciri khusus seseorang (dari kita sendiri dan orang lain) atau pada keadaan sekitarnya. Atribusi yang kita miliki membantu pembentukan khayalan kita yang terarah.

Tina mempunyai berat badan yang berlebihan. Ia takut orang tidak menyukainya, oleh karena itu ia menghindari pertemuan-pertemuan di masyarakat. Ia mengkambinghitamkan kegemukannya sebagai penyebab kesulitan-kesulitannya. Bila ia tidak mengurangi berat badannya, ia akan terus saja berkeyakinan bahwa semua masalah yang diambilnya dapat teratasi bila berat badannya turun.


E. Disonansi Kognitif

Adakalanya pemahaman kita terganggu, sehingga menyulitkan kita. Kita juga merasakan disonansi kognitif bila sikap dan tingkah laku kita tidak serasi. Disonansi kognitif terjadi bila kehidupan psikologis kita tidak harmonis.

Eman adalah seorang perokok berat, ketika bermunculan himbauan-himbauan tentang bahaya merokok bagi kesehatan, ia selalu mengatakan akan berhenti merokok. Tetapi kenyataannya tidak, dan ia tidak lagi berbicara tentang rencana menghentikan kebiasaan tersebut. Tampaknya ia tetap menikmati kebiasaan merokoknya. Suatu saat bila ia didesak tentang hal itu, iapun mengatakan bahwa ia sesungguhnya tahu dan harus berhenti merokok, tapi hidupnya kini sangat tertekan, sehingga ia tidakdapat berhenti merokok sekarang ini.

Ini menunjukkan bagaimana terjadinya disonansi kognitif. Keadaan tersebut bagi kita sesungguhnya tidak enak. Bila terjadi disonansi, ada sesuatu yang harus dilepas, atau ada ketidaksesuaian antara suatu keyakinan dengan keyakinan-keyakinan atau sikap yang penting. Bersikeras mempertahankan kedua-duanya, akan terasa sangat menyiksa. Pikiran Eman yang pertama adalah berhenti merokok, tetapi ia tidak sanggup melakukannya. Kemudian ia mengabaikan peringatan tentang kesehatan (menganggap bahwa peringatan tersebut bukan ditujukan kepadanya) dan ia dapat terus merokok dengan santai. Ketika ia diberitahu untuk memperhatikan peringatan-peringatan ini, ia meyakinkan dirinya bahwa nanti ia akan berhenti merokok, ia menggunakan beberapa cara disonansi kognitif untuk mengatakan hal itu.

Dua cara lain untuk menghadapi disonansi adalah dengan reaksi “anggur yang masam” dan “Jeruk yang manis”. Kita mencoba meyakinkan diri bahwa sebenarnya kita tidak menginginkan apa yang tidak dapat kita peroleh, atau bahwa kita menyenangi sesuatu yang tidak kita kehendaki tetapi kita tidak dapat melepaskannya. Kita juga dapat mengatasinya dengan mengusahakan persesuaian pendapat tentang keyakinan tertentu yang penting untuk memperkuat keyakinan kita yang kurang kokoh.


F. Gaya Interpersonal

Gaya interpersonal berkaitan dengan cara kita memperlakukan orang lain dan perlakuan orang lain terhadap diri kita sesuai dengan yang kita harapkan. Orang dewasa seperti halnya anak-anak, berbeda caranya berkomunikasi dengan orang lain. Ada orang yang hanya sedikit memberikan andil bagi orang lain, tetapi banyak sekali yang mengharapkan dari andil orang lain. Ada orang yang memanfaatkan kemarahan yang meluap-luap untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan atau membisu atau menarik diri bila keadaan dirasakannya tidak menyenangkan. Ada pula yang mencoba mempermainkan atau “memanfaatkan” orang lain dan adapula yang sangat menghargai orang lain dan memperlakukannya sebagaimana mereka ingin diperlakukan. Seperti halnya gaya moral, kita mengikuti suatu cara tertentu dalam menuju kematangan hubungan pergaulan.


G. Tahap Impulsif

Tina mempertimbangkan masalah-masalah moral hanya pada saat-saat ia menemui kesulitan. Tampaknya ia tidak mengerti bahwa orang membutuhkan peraturan-peraturan mengenai perilaku dalam kehidupan bersama. Baginya, suatu perbuatan yang tercela hanyalah perbuatan-perbuatan yang dapat dihukum, Tina hidup menurut impulsnya ; adakalanya ia mabuk-mabukan dan termasuk orang yang “bermurah hati” dalam kehidupan seksual.

Bila mengalami frustasi atau marah, Tina suka mengamuk. Ia memandang orang lain sebagai sumber masukan, dan menilai diri mereka dari seberapa banyak bantuan orang tersebut kepadanya. Dalam pandangannya yang terpusat pada diri sendiri itu, ia mengabaikan perasaan dan keinginan orang lain. Bila masalah interpersonal menjadi terlalu sulit, ia akan dengan serta merta melarikan diri dari keadaan, tidak berusaha memperbaiki dan mencarikan solusi dari permasalahan yang muncul tapi bahkan mengakhiri suatu hubungan interpersonal.

Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia memandang tanggung jawab sebagai bebormal">Tina melewatkan sebagian besar waktunya untuk berfikir tentang apa yang ia inginkan dan apa yang dirasa ingin dilakukannya. Bila hal itu tidak menyenangkan, ia menjadi bosan dan berusaha mencari kesenangan. Ia

Arti dan Definisi Kepribadian

In Psikologi Kepribadian

By Ir. RICHO A. NOGROHO, Sp.Og, M.Psi

Kepribadian itu memiliki banyak arti, bahkan saking banyaknya boleh dikatakan jumlah definisi dan arti dari kepribadian adalah sejumlah orang yang menafsirkannya. Hal ini terjadi karena adanya perbedaan dalam penyusunan teori, penelitian dan pengukurannya.

Kepribadian secara umum

Personality atau kepribadian berasal dari kata persona, kata persona merujuk pada topeng yang biasa digunakan para pemain sandiwara di Zaman Romawi. Secara umum kepribadian menunjuk pada bagaimana individu tampil dan menimbulkan kesan bagi individu-individu lainnya. Pada dasarnya definisi dari kepribadian secara umum ini adalah lemah karena hanya menilai perilaku yang dapat diamati saja dan tidak mengabaikan kemungkinan bahwa ciri-ciri ini bisa berubah tergantung pada situasi sekitarnya selain itu definisi ini disebut lemah karena sifatnya yang bersifat evaluatif (menilai), bagaimanapun pada dasarnya kepribadian itu tidak dapat dinilai “baik” atau “buruk” karena bersifat netral.

Kepribadian menurut Psikologi

Untuk menjelaskan kepribadian menurut psikologi saya akan menggunakan teori dari George Kelly yang memandang bahwa kepribadian sebagai cara yang unik dari individu dalam mengartikan pengalaman-pengalaman hidupnya. Sementara Gordon Allport merumuskan kepribadian sebagai “sesuatu” yang terdapat dalam diri individu yang membimbing dan memberi arah kepada seluruh tingkah laku individu yang bersangkutan.

Lebih detail tentang definisi kepribadian menurut Allport yaitu kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psikofisik individu yang menentukan tingkah laku dan pikiran individu secara khas.

Allport menggunakan istilah sistem psikofisik dengan maksud menunjukkan bahwa jiwa dan raga manusia adalah suatu sistem yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain, serta diantara keduanya selalu terjadi interaksi dalam mengarahkan tingkah laku. Sedangkan istilah khas dalam batasan kepribadian Allport itu memiliki arti bahwa setiap individu memiliki kepribadiannya sendiri. Tidak ada dua orang yang berkepribadian sama, karena itu tidak ada dua orang yang berperilaku sama.

Sigmund Freud memandang kepribadian sebagai suatu struktur yang terdiri dari tiga sistem yaitu Id, Ego dan Superego. Dan tingkah laku, menurut Freud, tidak lain merupakan hasil dari konflik dan rekonsiliasi ketiga sistem kerpibadian tersebut.

Dari sebagian besar teori kepribadian diatas, dapat kita ambil kesamaan sbb(E. Koswara):

1. sebagian besar batasan melukiskan kerpibadian sebagai suatu struktur atau organisasi hipotesis, dan tingkah laku dilihat sebagai sesuatu yang diorganisasi dan diintegrasikan oleh kepribadian. Atau dengan kata lain kepribadian dipandang sebagai “organisasi” yang menjadi penentu atau pengarah tingkah laku kita.
2. sebagian besar batasan menekankan perlunya memahami arti perbedaan-perbedaan individual. Dengan istilah “kepribadian”, keunikan dari setiap individu ternyatakan. Dan melalui study tentang kepribadian, sifat-sifat atau kumpulan sifat individu yang membedakannya dengan individu lain diharapkan dapat menjadi jelas atau dapat dipahami. Para teoris kepribadian memandang kepribadian sebagai sesuatu yang unik dan atau khas pada diri setiap orang.
3. sebagian besar batasan menekankan pentingnya melihat kepribadian dari sudut “sejarah hidup”, perkembangan, dan perspektif. Kepribadian, menurut teoris kepribadian, merepresentasikan proses keterlibatan subyek atau individu atas pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup factor-faktor genetic atau biologis, pengalaman-pengalaman social, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh factor-faktor bawaan dan lingkungan.
Happy New Year...




buat temen2 yang ada di SMEKENSA,,


buat N64' M4~N64' jangan lupa yang bulan pebruari kita ultah lho...



teruZzzzzz buat anggota DPRDx,,



kapan ada rapat lagi Oy....



hati hati awas korup,,


he he he .. .. ..!?"

Kirim Pesan Pribadi Ke Saya !!!


Your Name
Your Email Address
Subject
Message
Code Verification
captcha
Please enter the text from the code:
[ Refresh Code ] [ What's This? ]
   

Powered byEMF Form Builder
WWW.RICHOKU.CO.CC
  • RICHO
  • PRESENTS
  • WIDGETS
  • TEMPLATES
  • WORM TECHNIQUES
  • INSPIRATIONS

About Me

Foto saya
http://go.richoku.com/tentang-richo

Mau Berlangganan Artikel Gak Penting Di Sini ...

Masukan Alamat Email Anda:

Berlangganan Artikel Via Email Gratis!

Recent Posts

”"
IP
free counters
Google Translate
Arabic Korean Japanese
Chinese Simplified Russian Portuguese
English French German
Spain Italian Dutch

Categories